Radikalisme Jadikan Agama Islam Kambing Hitam

"Sayangnya banyak orang yang lupa soal itu. Cinta sendiri bukanlah barang baru, tapi memang otentik dalam ajaran Islam," ujar Alwi

BANYAK gerakan radikalisme dan terorisme menjadikan agama Islam sebagai kambing hitam. Padahal, sesungguhnya Islam adalah agama yang bernapaskan cinta dan damai. Cendekiawan Muslim, Alwi Shihab mengatakan, inti dari ajaran Islam adalah cinta dan identik dengan perdamaian.

"Sayangnya banyak orang yang lupa soal itu. Cinta sendiri bukanlah barang baru, tapi memang otentik dalam ajaran Islam," ujar Alwi di Jakarta, ditulis Minggu (7/6/2015).

Sedangkan Muslim sejati, katanya, mereka yang mencintai Allah dan dicintai Allah. Akibat virus kekerasan dan radikalisme yang cukup merajalela ini membuat seluruh bangsa Indonesia patut khawatir.

Sebab, sepuluh tahun lalu bangsa Indonesia tidak pernah membayangkan lahirnya kelompok radikalisme, terutama Islamic State of Iraq and Syria (ISIS). Mereka telah mencederai Islam bahkan menjadi ancaman nyata, dan sudah menyebar ke berbagai negara di Timur Tengah.

"Untuk menangkal gerakan mereka, kita tidak boleh tinggal diam," tandasnya.

Menurutnya, di luar negeri telah menganggap Islam Indonesia sebagai radikalisme. Padahal Islam Indonesia adalah cinta dan damai. Citra kekerasan ini harus diubah umat Islam menjadi Islam yang toleran dan damai.


"Kita menginginkan Islam yang berkembang di Indonesia merupakan Islam yang inklusif, menghargai perbedaan, dan rahmatan lil alamin," tutupnya. | POL

- See more at: http://pelitaonline.com/news/2015/06/07/radikalisme-jadikan-agama-islam-kambing-hitam/#sthash.5MZNX7K3.dpuf

Posted on June 22, 2015 .

Soft Power: Wali Songo Diplomacy, Six Centuries Ahead of Its Time

Often we as Indonesians search for examples of greatness to emulate from the outside world but fail to realize that some of the best models to follow exist from within our very own confines. One of those examples is the Wali Songo, or The Exalted Nine.
The Wali Songo were the nine Muslim missionaries instrumental in the peaceful spreading of Islam in Indonesia, and their teachings have been entrenched in the country for the past 600 years.

Posted on October 13, 2014 .

Why the Ties Sukarno Forged With Nahdlatul Ulama Remain Relevant for Indonesia

This year’s presidential election was marked by many remarkable events, ranging from an impressive show of people power to the darkest of political black campaigns. But while the election process has caused divisions within some strata of society, it has also generated a sense of solidarity that was rarely seen in past elections. A fascinating development, in some areas, was the revitalization of the strong ties created by Sukarno, the country’s first president, and Hasyim Asy’ari, the founder of the Islamic organization Nahdlatul Ulama.

Posted on August 14, 2014 and filed under artikel.