INKLUSIF DALAM BERAGAMA

Oleh : BHAYU M.H.

Terus terang saya sangat terinspirasi buku karya Dr. Alwi Shihab, yaitu Islam Inklusif: Menuju Sikap Terbuka Dalam Beragama (1997).  Buku yang saya baca di masa saya sedang kuliah tersebut memberikan sudut pandang yang bagus dalam sikap beragama saya. Apa itu? Terbuka dan toleran keluar, seraya teguh memegang prinsip ke dalam.

Inklusif merupakan lawan dari eksklusif. Dengan sikap ber-Islam yang inklusif, seorang Muslim diharapkan menyadari adanya nilai-nilai kebenaran dan kebaikan yang juga ditawarkan dan diajarkan agama lain. Seorang Muslim harus yakin bahwa agama yang dipeluknya adalah yang paling benar di seluruh alam raya, namun dalam keseharian ia tidak menunjukkan sikap “sok benar” atau “mau menang sendiri”.

Hal ini terutama dalam konteks pergaulan sesama manusia yang dalam Islam dikenal sebagai “hablum minannas”. Inti dari sikap inklusif adalah:

Kita boleh merasa benar, tapi tidak boleh memaksakan kebenaran yang kita yakini itu kepada orang lain.

Sebenarnya, makin banyak kita tahu, haruslah seperti “ilmu padi”. Apa itu? Makin berisi makin menunduk. Saya terkadang heran dengan beberapa teman yang saya temui mencoba menggurui tentang agama. Seolah, ia paling tahu soal agama. Padahal, pascasarjana saya di bidang filsafat agama. Secara akademis, insya ALLAH saya bisa yakin saya lebih tahu darinya.

Terus-terang, di keseharian, selain dengan orang yang sudah saya percaya keilmuannya, saya mencoba menghindari topik perbincangan tentang agama. Karena topik ini sensitif. Mengingat di dalamnya termaktub klaim kebenaran. Kalau tidak memiliki ilmunya, yang ada cuma debat kusir yang bisa berakhir dengan pertengkaran bahkan permusuhan. Sikap menghindar ini saya kira lebih baik daripada saya mencoba menerapkan “ilmu padi”. Karena seperti sering saya bilang, saya ini termasuk kategori “orang sombong”.

Artinya, kalau “ada yang jual”, saya “pasti beli”. Kalau sampai ada yang melecehkan agama saya, insya ALLAH saya ladeni.

Tapi selama ini saya belum bertemu orang semacam itu di keseharian saya.Alhamdulillah. Yang ada paling-paling satu-dua orang yang merasa tingkat keimanan dan sikap keberagamaannya lebih tinggi derajatnya dari saya. Sehingga, yang bersangkutan menjadi menggurui. Kalau sudah begitu, saya biasanya memilih mengganti topik pembicaraan daripada jadi perdebatan. Karena saya cuma akan terjebak pada dua arah: sombong atau riya’ dengan ilmu dan ibadah saya. Dua-duanya sia-sia.

Sikap inklusif ini pula yang saya bawa saat ke Bali. Menyadari bahwa di Pulau Dewata ini agama Hindu adalah mayoritas, saya sangat mempersiapkan diri. Misalnya saat bertanya arah kiblat, saya bertanya “barat ke arah mana ya?” dan bukannya “kiblatnya di mana ya?” Saya juga harus belajar melihat arah jatuhnya bayangan, karena adzan tidak terdengar di sana. Masjid memang ada di daerah pinggiran yang dihuni pendatang (saya melihatnya mulai pelabuhan Gilimanuk hingga kabupaten Negara), tapi tetap tidak mengumandangkan adzan selantang di tempat lain di Indonesia. Terutama tentu saja di daerah-daerah di mana Islam merupakan agama mayoritas penduduknya.

Dan dengan bekal sikap inklusif dalam beragama pula, saya mencoba menggali pemahaman mengenai agama tertua di dunia yang masih hidup hingga kini itu. (Agama lain yang lebih tua sudah punah, seperti agama suku Aztec atau Maya). Kebetulan pula saat kedatangan saya ke Bali bertepatan dengan perayaan Hari Raya Galungan dan Kuningan. Semoga saya bisa membaginya dengan LifeLearner. Bukan cuma dalam konteks pembelajaran semata, tapi juga dalam bingkai “Bhinneka Tunggal Ika”.

Sumber: http://lifeschool.wordpress.com/2012/02/10/inklusif-dalam-beragama/

Posted on January 22, 2014 and filed under Blog.