ISLAM IS BEAUTIFUL. PLURALISME IS BEAUTIFUL*

BENARKAH ORANG NON MUSLIM YANG BAIK DAN TULUS AKAN MASUK NERAKA 

 

PRURALISME DIMATA ALWI SHIHAB

Oleh : dr. Hj. Liza*

Menurut Dr. Alwi Shihab bahwa masalah yang sesungguhnya yang menyebabkan terjadinya perselisihan yang telah terwujud dalam sejarah hubungan muslim-kristen diIndonesia , pada dasarnya terletak pada sejarah panjang saling tidak percaya. Bahwa pemahaman diri dan watak Universal kedua agama ternyata hanya menumbuhkan rasa permusuhan. Secara mutlak yang tidak bisa mengakui bahwa agama lain disamping dirinya mempunyai nilai yang sama, Masing-masing bersikukuh bahwa bahwa agamanyalah yang unik, superior, normatif, membawa keselamatan dan satu-satunya wahyuyang sah dari satu-satunya Tuhan. Dengan adanya pandangan dasar seperti itu,ketidak percayaan tumbuh dalam dan perselisihan hampir tidak terhindar. 1

Dunia barat mengenal bahwa Islam adalah agama yang menghalalkan kekerasan dan disebarkan dengan pedang, menerapkan hukuman potong tangan bagipencuri, membolehkan Poligami,tidak menghargai perempuan, dan berada dibalik setiap tindakan teroris, Tapi Alwi merasa tertantang untuk menunjukan wajah Islam yangramah, menghargai hak asasi manusia, termasuk perempuan, dan cinta damai. 2

Di era globalisasi masa kini , umat beragama dihadapkan kepada serangkai tantangan batu yang tidak terlalu berbeda dengan apa yang pernah dialami sebelumnya,Pruralisme agama, konflik intern atau antaragama, adalah fenomena nyata. Pruralisme, Dimasa lampau kehidupan beragama bagaikan kamp-kamp yang terisolasi daritantangan-tantangan dunia luar. Sebaliknya , masa kini tidak sedikit pertannyaan kritisyang harus ditanggapi oleh umat beragama yang dapat diklasifikasikan rancu danmerisaukan. Sebagai konsekuensinya tampilnya sekian banyak agama baru, lahir pula serangkaian pertanyaan, antara lain: Apakah Tuhan itu Esa, tidak kah sebaiknya agama itu tunggal saja? Lalu disusul dengan pertanyaan : Apabila pruralisme agama tidak dapat dielakkan, maka yang mana diantara agama-agama ini yang benar, ataukah semuanya sesat? 3

Alwi Shihab. Secara Garis besar pruralisme pengertian Pruralisme agama dan budaya dapat disimpulkan sebagai berikut: (1)Pruralisma tidak semata menunjukkan pada kenyataan tentang adanya kemajemukan Namun yang dimaksud adalah keterlibatan aktif terhadap kenyataan kamajemukan tersebut. Pruralisme agama danbudaya dapat kita jumpai dimana-mana. Didalam masyarakat tertentu, Dikantor tempatkita bekerja, disekolah tempat kita belajar, bahkan dipasar dimana kita belanja, Tapiseseorang baru dapat dikatakan sifat tersebut bila ia dapat beriteraksi positif dalam lingkungan keajemukan tersebut, dengan kata lain, pengertian pruralisme agama adalah bahwa tiap pemeluk agama dituntut bukan saja mengakui keberadaan dan hak agama lain, tapi terlibat dalam usaha memahami perbedaan dan persamaaan guna tercapainya kerukuna dalam kebhinnekaan,(2) pruralisme harus dibedakandengan kosmopolitanisme, Kosmopolitan menunjukkan menunjukan kepada suatu relalitadimana aneka ragam agama, ras, bangsa hidup berdampingan disuatu lokasi. Ambil misal newyork. Kota ini adalah kota kosmopolitan . dikota ini terdapat, yahudi, kristen,muslim, hindu, budda, bahkan orang-orang yang tanpa agma sekalipun, seakan seluruh penduduk dunia berada di kota ini, namun interaks positif antar penduduk ini, khususnya di bidang agama, sangat minimal kalaupun ada (3) konsep Pruralisme tidak dapat disamakan dengan relativitas. Seorang relativis akan berasumsi bahwa hal-halyang menyangkut ”kebenaran” atau ” nilai” ditentukan oleh pandangan hidup serakerangka berfikir seseorang atau masyarakatnya. Sebagai contoh,’Kepercayaan/kebenaran” yang diyakini oleh bangsa eropa bahwa ”Columbus menemukan amerika: adlah sam abenarnya dengan kepercayaan benua tersebut bahwa”Columbus mencaplok Amerika”. Sebagai konsekuensi dari paham relativisme agama, Dokrin agama apapun harus dinyatakan benar. Atau tegasnya ”semua agam aadalh sam.”karena kebenaran agam-agama, walaupun berbeda-beda dan bertentangan satu sama lain ,tetap harus diterima . Untuk itu seorang relativis tidak akan mengenal, apalagi menerima,sutu kebenaran universal yang berlaku untuk semua dan sepanjang masa.4

Alwi Shihab Tidak dapat di pungkiri bahwa paham pruralisme terdapat unsur relativisme, yaitu unsur tidak mengklaim pemilikan tunggal (monopoli) atau suatukebenaran, apabila memaksakan kebenaran tersebut pada pihak lain. Paling tidak seorangpruralisme akan menghindari sikap absolutisme yang menonjolkan keunggulannyaterhadap pihak lain. Oleh karena itu, banyak orang enggan menggunakan kata Pruralismeagama, karena kawatir akan terperangkap dlam lingkaran konsep relativisme agama.Sebagaimana diketahui, konsep relativisme yang berawal pada abad kelima sebelummasehi, yakni masa phitagoras, seorang sofis yunani. Konsep tersebut bertahan sampaimasa kini. Khususnya dalam pendekatan ilmiah yang dipakai oleh para ahli antropologidan sosialogi . konsep ini menerangkan bahwa apa yang dianggap baik atau buruk, benaratau salah, adalah relatif, tergantung kepada pendapat tiap individu keadaan setempat,atau institusi sosial dan agama . Oleh karena itu konsep ini tidak mengenal kebenaranabsolut atau kebenaran abadi.5

Pruralisme agama bukan sinkretisme , yakni menciptakan suatu agama barudengan memadukan unsur tertentu atau sebagian komponen ajaran dari beberapa agamuntuk dijadikan bagaian integral dari agama baru tersebut. 6

Alwi Shihab Yang perlu digaris bawahi bahwa disini adalah apabila konsep pluralisme agama diatas hendak diterapkan di Indonesia maka ia harus bersyarat satu hal,yaitu komitmen yang kokoh terhadap agama masing-masing Seorang pruralisme , dalam berinteraksi dengan aneka ragam agama, tidak saja dituntut untuk membuka diri, belajardan menghormati mitra dialognya. Tapi yang terpenting ia harus comiited terhadapagama yang dianutnya. Hanya dengan sikap demikian dapat menghindari relativisme agama yang tidak sejalan dengan semangat Bhinneka Tunggal Ika,7

Alwi shihab.Menambahkan lagi bahwa Tantangan yang dihadapi oleh umat beragama di Indonesia tidaklah kecil , Kalau sampai saat ini kita dapat berbangga atas prestasi yang telah dicapai dalam membina dan memupuk kerukunan umat beragama,namun tugas yang terbentang dihadapan kita masih jauh dari rampung. Adalah tanggung jawab kita bersama untuk membudayakan sikap keterbukaan , menerima perbedaan , danmenghormati  kemajemukan agama, dibarengin dengan loyalitas dan komitmen agama masing-masing.8

Pengertian pruralisme Agama yang bersyarat inilah yang terekam dalam anjuranallah dalam Al-Quran Surah Saba (34) ”24-26 , Katakanlah wahai Muhammad : Siapakahyang memberi rejeki dari langit dan dari bumi? Katakanlah ”Allah” dan sesungguhnya kami atau kamu (nonmuslim) pasti berada dalam kebenaran atau kesesatan yang nyata.Katakanlah kami (non muslim) tidak akan bertanggung jawab tentang dosa yang kamiperbuat dan kami tidak akan ditanya pula tentang apa yang kamu perbuat, Katakanlah tuhan tidak akan mengumpulkan kita semua, kemudian Dia memberi keputusan kitadengan benar dan Dialah yang maha pemberi Keputusan lagi maha mengetahui.Surat Al-baqorah (2) : 62, Sesungguhnya orang-orang mukmin , orang-orangYahudi ,orang-orang Nasrahi dan orang-orang shabiin ,siapa saja diantara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian , dan beramal saleh , mereka akanmenerima pahala dari tuhan. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka, dan tiada pula mereka bersedih hati.Alwi mengajak semua umat untuk sama sama ” Semoga dengan semangat Bhinneka Tunggal Ika yang dibekali oleh pengertian Pruralisme agama yang bertanggung  jawab, kita dapat mengatasi tantangan besar yang kita hadapi bersama

 

1.  Dr. Alwi Shihab , Islam inklusif, menuju sikap Terbuka dalam beragama. PenerbitMizan. 1998 hal 34

2. Ibid , pengantar vii

3. Ibid hal 39

4. Alwi, hal 41

5. Alwi hal 42

6. Alwi hal 42

7. Alwi hal 43

8. Alwi Hal 43

*PROGRAM PASCASARJANA SEKOLAH  TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI CIREBON 2006

Posted on November 29, 2013 and filed under Blog.