Kilas Balik: Dengan Tasawuf, Islam menyebar damai!!

MENGAPA Islam masuk ke Indonesia berjalan mulus, dan kemudian bertahan, bahkan kini Indonesia merupakan negeri dengan umat Islam terbesar di dunia? Alwi A. Shihab, 46 tahun, seorang wiraswastawan Indonesia yang tertarik mempelajari Islam, punya jawaban menarik. Kata dia, itu karena Islam yang masuk ke Nusantara banyak diwarnai oleh tasawuf. Belum lama ini, Alwi Shihab meraih gelar doktor di Universitas Ain Shams, Kairo, Mesir, dengan disertasi yang berjudul Tasawuf Islam dan Pengaruhnya terhadap Tasawuf Indonesia Modern dengan predikat summa cum laude. Salah seorang pengujinya adalah Prof. Dr. Abdul Wafa El Taftazany, Ketua Dewan Tinggi Tasawuf dan Tarekat di Mesir, guru besar filsafat Islam dan juga menjabat Wakil Rektor Universitas Al-Azhar.

Alwi Shihab, dalam disertasinya yang disiapkannya sekitar tiga setengah tahun itu, membandingkan masuk dan berkembangnya Islam di Indonesia dan Spanyol. Islam masuk ke negeri Barat itu pada dasawarsa pertama abad ke-8 tanpa membawa spirit tasawuf. Mungkin karena agama wahyu terakhir ini masuk ke sana lewat peperangan, di masa ketika ajaran tasawuf belum solid benar (menurut para ahli, ajaran tasawuf baru terbentuk pada abad ke-9). Maka, konflik dengan penduduk setempat, yang semula Kristen, tak kunjung surut.

Kemudian sejarah mencatat, Islam di Andalusia cuma bertahan ratusan tahun, lalu mundur. Kristenlah kemudian yang dominan di sana. Sementara itu, di abad yang kemudian, abad ke-13, para penyebar Islam yang masuk Indonesia sebagian besar penganut ajaran tasawuf. Spirit tasawuf ini, menurut Alwi Shihab, sangat akomodatif terhadap agama lain. Mungkin karena tasawuf -- semacam mistik dalam Islam -- dalam hal spirit religiusnya, juga dikenal oleh agama-agama yang lain. Bahkan, menurut Alwi Shihab, semangat itu juga terdapat dalam filsafat Yunani, India, dan Jawa. Dan karena semangat tasawuf itu pula para pembawa Islam tampaknya tak punya maksud politis -- yang ada hanyalah semata menyebarkan Islam, bukan untuk membuat kerajaan Islam, misalnya. Itu menjelaskan masuknya Islam ke Indonesia -- kawasan yang sudah terlebih dahulu dikuasai oleh Hindu dan Budha -- tak menimbulkan konflik tajam.

Para sufi (pemeluk tasawuf) yang membawa Islam ke Indonesia itu berbicara dengan bahasa yang bisa dipahami dan diterima oleh semua agama dan aliran. Misalnya, mereka tak lalu memusuhi wayang, yang jelas-jelas pada awalnya menyiratkan spirit Hindu. Justru, dengan cerdik, mereka menyelipkan ajaran dan semangat Islam ke dalam wayang, dan mengajak para penonton pertunjukan wayang masuk Islam. Ajimat Pandawa Lima yang disebut kalimosodo tak ada dalam naskah Mahabharata yang asli India. Menurut orang Jawa, kata kalimosodo itu mengacu pada "kalimat syahadat." Untuk memperoleh banyak pengikut itulah Muhammad Jailani yang datang ke Aceh dari Gujarat terpaksa balik ke Mekah. Ia terpaksa belajar tasawuf dulu, baru kemudian kembali ke Aceh untuk menyebarkan Islam. Dan ternyata memang kemudian ia mendapat banyak pengikut.

Seperti umumnya di dunia Islam lainnya, tasawuf yang berkembang di Indonesia adalah tasawuf suni, tasawuf yang mengacu pada sunah Nabi. Ini bisa dilihat dari ajaran Wali Songo dan kitab primbon di Jawa, yang menurut Alwi Shihab tidak banyak berbeda dengan yang dibawakan oleh Imam Al Ghazali, dari segi pengertian keagamaan. Tasawuf ini dari Wali Songo turun ke Ar-Raniri di Aceh, dan selanjutnya sampai ke Kiai Hasyim Ashari, pendiri Nahdlatul Ulama (NU). Barangkali ini sebabnya kenapa tarekat tasawuf suni sampai sekarang kebanyakan berada di bawah naungan NU.

Di samping tasawuf suni, ada tasawuf filsafat, yang menurut Alwi Shihab berakar pada doktrin Ibnu Arabi, seorang sufi Andalusia di abad ke-12. Di Indonesia jenis tasawuf kedua itu berkembang dalam pemikiran Syekh Siti Jenar di Jawa dan Hamzah Fansuri di Aceh, turun ke Abdus-Samad Al-Palimbani di Palembang, lalu kembali ke Jawa menjadi kebatinan. Ibnu Arabi, yang oleh kalangan sufi digelari al-Syaikh al-Akbar, dikecam banyak orang karena ajarannya dianggap jauh dari Islam. Tapi ada juga ulama yang membenarkan Ibnu Arabi dan menganggap dia termasuk ke dalam Ahlul sunah waljamaah juga, dengan pertimbangan Ibnu Arabi tidak meninggalkan Quran dan Hadis. Lewat pandangan yang membenarkan Ibnu Arabi, atau pendapat di antara Wali Songo yang toleran terhadap Syekh Siti Jenar, Alwi Shihab melihat kelompok kejawen atau kebatinan di Indonesia. Ia membagi kejawen dalam dua kelompok: kelompok yang menjadikan Quran dan Sunah sebagai dasar, dan kelompok yang melepaskan keesaan Tuhan dan misi Muhammad. Kelompok yang pertama masih dapat diterima Islam. Contoh kelompok ini adalah pujangga Ronggowarsito. Alwi memang berpegang pada sikap Abu Iyad Ar-Randi, seorang sufi di abad ke-13, yang menilai Ibnu Sab'in, sufi yang lebih radikal dari Ibnu Arabi dan yang dianggap kafir oleh sebagian ulama kala itu, sebagai bukan kufur. Kata Ar-Randi, "Saya tidak memahami ungkapan-ungkapan beliau (Ibnu Sab'in), namun hendaknya seseorang jangan memasukkan orang ke kubu kufur. Dosa seseorang yang memasukkan seorang muslim ke kubu kafir lebih besar daripada memasukkan seribu orang yang diragukan keislamannya ke kubu muslim." Dalam konteks inilah, Alwi Shihab menemukan, dengan spirit tasawuf, dialog keagamaan dengan kelompok kebatinan yang masih percaya pada Quran dan Sunah akan mendatangkan hasil yang positif. Dengan kata lain, dengan semangat tasawuf, kalau kita berbicara tentang ukhuwah Islamiyah, bisa juga memasukkan kelompok kejawen. Sayap Islam kemudian tertebar lebih luas. Ternyata, sampai sekarang, tasawuf masih mewarnai Islam di Indonesia.

Dan eloknya, tasawuf tak hanya dipakai oleh penganutnya hanya untuk dirinya sendiri. Dikir, salah satu ciri tasawuf, lalu tak cuma dibaca untuk meningkatkan kualitas rohani diri sendiri. Misalnya, dikir hanya diharuskan dibaca oleh para calon sufi, sebagaimana diperintahkan oleh Abdurrauf Singkil yang terkenal sebagai Syaikh Kuala di Aceh. Tapi dikir kemudian juga dipraktekkan untuk kebaikan orang lain. Hal seperti itu ditemukan Alwi di Pondok Pesantren Suryalaya, di Tasikmalaya, Jawa Barat. Pondok pesantren ini, sebagaimana sudah diketahui masyarakat luas, aktif menangani persoalan-persoalan sosial dalam masyarakat, terutama dalam menangani kasus remaja yang terlibat narkotik. Metode penyembuhannya, salah satunya, dengan membaca dikir. Dalam batasan yang agak longgar, tasawuf juga dipraktekkan oleh para kiai, terutama di pedesaan. Misalnya, di kawasan Magelang, Jawa Tengah, banyak kiai yang meski tak pasang papan nama selalu didatangi oleh mereka yang minta pertolongan berdasarkan Islam. Bila Alwi dipuji, menurut Prof. Dr. Abul Wafa el Taftazany, salah seorang penguji Alwi, karena disertasinya bisa bermanfaat untuk referensi guna menyelesaikan masalah-masalah Islam di Indonesia sekarang. Julizar Kasiri, Indrawan, Dja'far Bushiri (Kairo)

Posted on November 11, 2013 and filed under Blog.