Menghalau Islamophobia

Oleh  Imam Mustofa*

“Katakanlah: Hai ahli kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan dia dengan sesuatupun “.

(Q.S. Ali’Imrân [3]: 64)

Merespon perkembangan Islam di dunia, khususnya di Eropa, kalangan ultra kanan Eropa bereaksi, mulai dengan mengadakan diskusi, konferensi sampai demonstrasi anti-Islam. Lebih dari itu, yang paling meresahkan dan memperihatinkan adalah adanya gerakan islamophobia. Gerakan islamophobia juga muncul di Amerika Srikat, negara yang mendewakan demokrasi dan mengaku menjunjung tinggi nilai-nilai pluralisme dan multikulturalisme.

Islamophobia adalah ketakutan yang berlebihan terhadap Islam dan penganutnya. Islamophobia muncul karena faktor politik, dan sejarah. Islamophobia ini bukan masalah baru dalam hubungan Islam dan Barat-Kristen. Berabad-abad sejak terjadinya Perang Salib, Islamophobia sudah mulai muncul dan terkonstruk dalam pikiran dan budaya Barat. Persaingan ideologi, politik dan peradaban antara Islam dan Kristen terjadi sejak persinggungan antara keduanya, sekitar abad XI.

Terkait sejarah hubungan Islam-Barat, banyak peristiwa sejarah yang masih menjadi memori kelabu dalam memori kolektif Barat (Adian Husaini, 2007). Memori ini tampak terbuka setelah isu terorisme yang secara terang-terangan memojokkan posisi umat Islam. Isu terorisme dijadikan momentum untuk melakukan black campaign terhadap Islam. Dengan bantuan media massa dan media elektronik, kalangan Barat melakukan propaganda untuk mendeskriditkan Islam. Islam digambarkan agama yang beringas, haus darah, membenci kemajuan pihak lain, agama anti-HAM, agama teroris dan setigma negatif lainnya.

Hubungan antagonis Islam dan Barat bahkan konfrontatif setidaknya disebabkan tiga faktor utama, yaitu faktor ketidaktahuan, faktor historis dan faktor media massa (Alwi Shihab: 2011). Islam dan Barat hidup dalam kecurigaan karena antara satu dengan yang lain belum memahami secara komprehensif tentang epistemologi dan ajaran masing-masing. Dari perspektif historis, rekam sejarah kolonialisme Islam terhadap sebagian wilayah Kristen atau sebagian Eropa serta sejarah kolonialisme Barat-Eropa terhadap Negara-negara yang mayoritas berpenduduk muslim telah memicu konfrontasi Islam dan Barat.

Islamophobia dan Peran Media

Stigma terorisme terhadap Islam dan munculnya islamophobia di dunia saat ini tidak terlepas dari peran-peran yang dimainkan media. Sebagian media Barat telah sukses menggambarkan Islam secara tidak proporsional, sehingga Islam dipahami sebagai agama yang jahat, anti kemanusiaan. Media Barat menghembuskan propaganda untuk memojokkan dan membatasi ruang gerak terhadap kelompok-kelompok dan bahkan Negara yang dianggap tidak pro-terhadap kepentingan Barat

Menurut Perdana Menteri Malaysia Datuk Seri Najib Tun Razak, masalah menjadi serius ketika propaganda menjadi efektif di saat beberapa orang mengalami phobia terhadap Islam. Situasi yang tidak menguntungkan ini terjadi karena umat Islam tidak menggunakan media untuk meluruskan miskonsepsi terhadap Islam. Posisi penguasaan terhadap lalulintas media sangat diuntungkan, sehingga kelompok minoritas, negara miskin, kelompk dan Negara yang tidak pro terhadap kebijakan dan kepentingan Barat, terutama Amerika sangat dirugikan sebab tidak memiliki kekuatan balik. Media-media ini tidak lagi berkisar pada media cetak maupun elektronik tapi sudah bergerak sampai pada dunia maya, yang sering disebut dengan Ciber Terorism. Melihat hal ini, sebenarnya Islam adalah sebagai korban dari terorisme.

Bersama Mencari Solusi

Harus diakui bahwa pasca mencuatnya isu terorisme, maka hubungan antara Islam dan Barat-Kristen sangat dingin, saling curiga dan bahkan sampai pada tataran intimidasi, baik psikis maupun fisik yang menjadi fenomena nyata yang sulit untuk disembunyikan dan ditepis. Saling percaya, saling menghormati dan menghargai semakin menipis.

Hubungan cinta Islam dan Barat-Kristen yang sama-sama bersumber dari spiritualitas ajaran masing-masing sering tereduksi oleh persaingan politik. Taufik Abdullah (2002) mengatakan, namun demikian, terkadang karena alasan politik pula hubungan tersebut dapat terjalin dan diakui pemuka Kristen. Hal ini bisa dilihat dari surat Paus Gregorius VII (w. 1085) kepada Nasir bin Nas (abad XI), putra mahkota Bani Hammud, sebuah dinasti yang berpusat di wilayah Aljazair sekarang, pada 1076. Ia menulis: “Ada sentuhan kasih antarkita, lebih daripada antara masing-masing kita dan kelompok lain. Itu karena sama-sama mengakui dan memberi kesaksian akan keesaan Tuhan, meskipun dengan cara-cara yang berbeda, dan kita memuja dan menyembah-Nya setiap hari sebagai Pencipta dan Penguasa dunia.”

Isi surat tersebut seolah menegaskan surat Ali Imrân ayat 64. Ayat tersebut mengajak umat beragama yang berpegang pada kitab suci untuk berpegang pada ajaran Allah. Ajaran yang berisi tentang kebersamaan, persaudaraan, perstuan, keadialan dan nilai-nilai universal lainnya. Isi surat di atas mengajak untuk hidup bersama dalam bingkai cinta dan persaudaraan yang bersumber dari ajaran agama masing-masing yang merupakan interpretasi dari nilai-nilai estetis Tuhan.

Kalau masing-masing umat beragama lebih memandang dan mencari persamaan maka yang akan tercipta adalah kebersamaan dan persaudaraan. Akan tetapi bila yang dicari dan yang diumbar adalah perbedaan, keburukan dan aib masing-masing, maka yang akan timbul adalah kebencian, intimidasi dan penindasan, baik secara halus maupun kasar, baik secara langsung maupun tidak.

Sebagai sesama umat manusia, sudah menjadi fitrah kita untuk hidup bersama dalam bingkai persaudaraan. Untuk merajut kembali serakan benang-benang persudaraan, menegakkan kembali puing-puing kesalingpercayaan, saling menghargai dan menghormati antara Islam dan Barat maka perlu intensifikasi duduk bersama untuk berdialog antarperadaban. Dialog antarperadaban dilakukan secara intens untuk mencari titik temu dan meluruskan kesalahpahaman (misunderstanding) dan kesalahan persepsi(misperception) antara kedua peradaban. Lebih dari itu, dialog antar peradaban untuk menemukan common platform atau dalam bahasa al-Quran kalimatun sawa’ untuk menjalin hubungan yang lebih harmonis dan konstruktif untuk membangun peradaban yang sejahtera berlandaskan keadilan.

Bila komunkasi antara Islam dan Barat dapat dilakukan secara intens, maka akan ada sikap saling terbuka dan obyektif untuk menilai satu sama lain, dengan demikian akan menimbulkan sikap toleran antara satu dengan lainnya. Dialog antarperadaban harus mempunyai landasan kuat dalam rangka menciptakan toleransi antarperadaban demi untuk membangun peradaban manusia dan kesejahteraan yang berkeadilan. Karena keragaman adalah keniscayaan, dan manusialah yang harus mampu me-managekeragaman dan perbedaan tersebut agar dapat hidup berdampingan dalam suasana damai, aman dan tenteram.

Perlu kerja keras dari para intelektual muslim dan Barat untuk menjelaskan secara gamblang tentang kesamaan antara keduanya. Sesuai dengan namanya, Islam adalah agama perdamaian, agama cinta yang menghormati dan menghargai manusia tanpa memandang latar belakang agama, suku, ras, bangsa dan Negara. Penjelasan ini sangat membutuhkan peran media, baik cetak maupun elektronik cyber media yang obyektif, media yang tidak mempunyai kepentingan kecuali menegakkan kebenaran dan perdamaian tanpa diskriminasi. Media juga berkewajiban menciptakan perdamaian dunia.

 

 Imam Mustofa (Ketua Ikatan Keluarga Alumni PPUII)

Posted on November 23, 2013 and filed under Blog.