Gema Bhinneka Tunggal Ika di HUT RI ke-69 KJRI Frankfurt

Setiap tahun kita merayakan HUT Kemerdekaan negara kita yaitu Republik Indonesia. Jika kita lihat angka 69 maka kita akan berkomentar; “sudah 69 tahun kita merdeka, bebas dari penjajahan, sudah sanggup mengurus sendiri negara kita tanpa campur tangan asing, apa yang telah kita capai ?, dan seterusnya.”

Waktu selama 69 tahun bukanlah waktu yang pendek dan dalam waktu tersebut Indonesia sudah banyak membuat kemajuan dalam segala sektor walau pun belum optimal dirasakan oleh seluruh wilayah yang ada dan oleh seluruh rakyat Indonesia secara merata. Ibarat sebuah neraca yang menunjukkan garis turun dan naik maka begitu pula kondisi Indonesia faktanya. Semuanya ini hanya bisa diatur oleh kebijakan-kebijakan yang ditetapkan oleh Pemerintah yang sedang memerintah dengan jangka pemerintahan selama 5 (lima) tahun dengan tepat, konsekwen, jujur dan bertanggung jawab.

Disamping kebutuhan rakyat Indonesia yang harus diperjuangkan oleh Pemerintah RI juga Bhinneka Tunggal Ika sebagai semboyan bangsa Indonesia yang terdiri dari berbagai macam suku, bahasa, agama dan adat-istiadat. Bhinneka Tunggal Ika adalah semboyan murni dari Republik Indonesia yang harus dan tetap dipertahankan !.

Dalam artikel saya kali ini, saya ingin berbagi kepada para pembaca tentang liputan selama saya menghadiri upacara HUT Proklamasi RI yang ke 69 yang baru lalu sebagai berikut:

Upacara HUT RI ke-69 tahun ini diadakan di KJRI Frankfurt pada tanggal 17 Agustus 2014, dihadiri oleh masyarakat Indonesia yang bermukim di Frankfurt dan sekitarnya tersebut secara resmi dimulai tepat pukul 09:00 pagi. Upacara dibuka dengan penyambutan tamu kehormatan Bapak Alwi Shihab (eks. Menteri Kesejahteraan Rakyat) yang dalam sambutannya; beliau mengajak masyarakat Indonesia untuk memperkuat persatuan dan toleransi. Beliau juga mengingatkan bahayanya ideologi radikal yang dapat memecah persatuan bangsa. Setelah itu pelaksanaan upacara bendera pun dimulai dengan khidmat dan dilanjutkan dengan sambutan oleh Acting Konjen RI Frankfurt (Bapak Mudzakir).

Pesta HUT Proklamasi rasanya ada yang kurang jika tidak disertakan dengan perlombaan-perlombaan yang diikuti oleh anak-anak dan orang dewasa, oleh karena itu panitia upacara pun mengadakan berbagai jenis perlombaan seperti untuk anak-anak misalnya; lomba balap kelereng, lomba memasukkan pensil ke botol, lomba makan donat dan untuk orang dewasa tersedia juga misalnya; lomba bakiak, lomba mengupas bawang juga tak kalah dengan anak-anak; lomba makan donat.

Selain perlombaan di atas yang tentunya mengundang tawa ceria masyarakat Indonesia yang menghadiri upacara tersebut, tak ketinggalan juga acara nyanyian dan tarian yang ditampilkan oleh berbagai jenis organisasi masyarakat Indonesia yang ada seperti PERMIF (Perhimpunan Masyarakat Indonesia di Frankfurt), GMIF (Gereja Misi Indonesia Frankfurt), Tetada Frankfurt, Lenong Betawi, Kroncong Asbun dan masih banyak lagi yang membuat para hadirin betah menikmati suguhan acara sambil menikmati Lunchbox yang disiapkan oleh para ibu-ibu KJRI.

Dari acara-acara tersebut di atas, penulis ingin sekali memperkenalkan Group Paduan Suara yang baru dibentuk. Group Paduan Suara ini belum bernama dan berkeinginan memfokuskan lagu-lagu rakyat dari wilayah Indonesia Timur. Mengapa hanya Indonesia Timur ? karena dari wilayah Indonesia lainnya sudah terbentuk lebih dahulu.

Pembentukan Group Paduan Suara yang diasuh oleh Ibu Like Gottwald tersebut adalah kelanjutan dari Parade Kultur bulan Juni yang lalu, dimana untuk pertama kalinya barisan Indonesia Timur dibentuk di bawah koordinasi saya sendiri. Untuk kepercayaan yang diberikan tersebut, saya ucapkan terima kasih kepada KJRI dan PERMIF serta seluruh Panitia Parade Kultur 2014. Semoga di Parade Kultur berikutnya kita bisa bekerja-sama kembali. (Laporan tentang Parade Kultur menyusul ya ;)

Yang membuat saya terharu adalah ketika salah satu pelajar Indonesia dari Mannheim (Putri Nur Julita) membacakan puisi saya yang berjudul “Negeri Bahariku” dengan iringan lagu “Aku Papua” karya Franky Sahilatua. Tak ketinggalan juga tarian Tifa yang ditarikan oleh dua orang nona manise (Marina Madarch Warkor dan Vero Nica) dengan iringan lagu “Hena Masa Waya”

Selain kedua lagu di atas, para penonton kami ajak juga untuk menghentakkan kaki mengikuti irama lagu-lagu seperti: Sajojo, Sayang Kene, Bolelebo, Hura-hura Cincin dan terakhir ditutup dengan lagu “Hari Merdeka (Tujuh Belas Agustus 1945)” yang dinyanyikan bersama oleh para penonton.

Selain menyanyikan lagu-lagu rakyat dari Indonesia Timur di atas, kesempatan bagi kami juga tuk memperkenalkan pakaian adat masing-masing peserta … hm … betapa cantik, kaya dan beraneka ragamnya.

Upacara HUT RI di atas tidak hanya untuk menghormati jasa para pahlawan saja melainkan juga mengikat erat hubungan silaturahmi masyarakat Indonesia di Luar Negeri dan tetap menjunjung tinggi ke-Bhinneka Tunggal Ika-an yang ada dalam masyarakat kita.

Upacara pun ditutup dengan penurunan bendera Merah Putih pada jam 16:30 yang berlangsung selama 30 menit.

 Akhir kata saya ucapkan terima kasih kepada Bapak Dr. Soni Akmal (KJRI) tuk info tambahan, Fotografer Dus Flores dan FB KJRI, teman-teman Group Paduan Suara (Like Gottwald, Renny Tauran, Eka Biebel, Putri Juliasi Lumban Gaol, Putri Nur Julita, Marina Madarch Warkor, Dessy Samurwaru, Barry Salaka, Lady, Iren Manuhutu, Vero Nica, Grace Talakua, Lili, Marchris Tiahahu Karelauw, Els Nicolay) dan mohon maaf jika ada yang terlewat atau kekurangan dari liputan di atas. 

 “Semoga Indonesia selalu jaya dan salam MERDEKA !”

Sumber: http://luar-negeri.kompasiana.com/2014/08/26/gema-bhinneka-tunggal-ika-di-hut-ri-ke-69-kjri-frankfurt-675166.html

Posted on August 27, 2014 .