Tak Ada Nilai Moral Benarkan Kekerasan

Jakarta, Kompas - Cendekiawan Muslim, Alwi Shihab, di Jakarta, Sabtu (6/8), mengatakan, tasawuf bisa meredam fundamentalisme, eksklusivisme, dan radikalisme karena mengajarkan peningkatan moral. Tidak ada nilai moral yang membenarkan radikalisme.

Jakarta, Kompas - Cendekiawan Muslim, Alwi Shihab, di Jakarta, Sabtu (6/8), mengatakan, tasawuf bisa meredam fundamentalisme, eksklusivisme, dan radikalisme karena mengajarkan peningkatan moral. Tidak ada nilai moral yang membenarkan radikalisme.
Pernyataan itu dikatakan Alwi dalam seminar ”Melacak Jejak Tasawuf Filosofis di Indonesia” di Pusat Studi Jepang, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia, Depok, Sabtu (6/8). Sebagai pembicara lain adalah Direktur Sekolah Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta Azyumardi Azra, peneliti Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat UIN Syarif Hidayatullah Oman Fathurahman, dan Rektor Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Ampel Surabaya Nur Syam.
Dalam seminar itu terungkap, tasawuf dapat menjadi jawaban beragam masalah bangsa, seperti korupsi, saling fitnah, serta radikalisme dan kekerasan. Tasawuf mengajarkan moralitas, puas dengan kesederhanaan, dan mengutamakan toleransi.
Alwi mengingatkan, Islam juga masuk ke Indonesia secara damai sebab dibawa orang-orang yang memiliki pengetahuan dan penghayatan terhadap tasawuf. Diajarkan pula toleransi, terbuka pada perbedaan dan saling menghormati mereka yang berbeda.
Tasawuf juga mengajarkan untuk puas dengan apa yang dimiliki, tidak terus memupuk harta dan berbagai hal duniawi. Ini mengatasi ketamakan yang mengakibatkan korupsi marak terjadi di Indonesia.
Dari ajaran Tasawuf, menurut Nur Syam, berkembang konsep Islam yang rahmatan lil alamin (rahmat bagi sekalian alam) sebab diajarkan cara menyeimbangkan dunia kerohanian yang bersifat vertikal dan sosial yang bersifat horizontal. Namun, sering disalahartikan, penganut tasawuf hanya mengurus kerohanian. Padahal, dari pemahaman tasawuf, banyak muncul pergerakan di Indonesia, seperti pemberontakan petani di Banten yang dipimpin Kartono Sartodirejo dan pergerakan menentang penjajahan lainnya. Dalam konteks masalah bangsa saat ini, tasawuf tetap relevan karena jauh dari radikalisme.
Oman menambahkan, ini pula yang membuat Islam tampak lebih damai ketika pertama masuk ke Indonesia. (ina)

 

Sumber: http://health.kompas.com/read/2011/08/08/01575028/Tak.Ada.Nilai.Moral.Benarkan.Kekerasan

 

Posted on November 14, 2013 and filed under news.