Menlu Denmark: Indonesia Panutan bagi Negara Muslim di Dunia

Menteri Luar Negeri Denmark, Kristian Jensen, menilai Indonesia adalah tempat yang tepat untuk belajar mengenai keberagaman agama. (CNN Indonesia/Hanna Azarya Samosir)

Jakarta, CNN Indonesia -- Di tengah jadwal kunjungan yang padat pada Kamis (22/10), Menteri Luar Negeri Denmark, Kristian Jensen, bertandang ke Masjid Istiqlal, Jakarta, untuk belajar mengenai hidup damai dalam keberagaman seperti di Indonesia dari beberapa tokoh lintas agama. 

Menurut Jensen, Indonesia adalah tempat yang tepat untuk belajar mengenai keberagaman agama.
"Indonesia adalah panutan bagi negara Muslim di seluruh pelosok dunia. Indonesia bisa membuat Islam sebagai kreasi bangsa, juga sebagai pemersatu keberagaman di negara," ujar Jensen kepada CNN Indonesia.

Jensen berpandangan, isu keberagaman sangat krusial bagi dunia saat ini. Pasalnya, banyak masalah bahkan perang pecah hanya karena negara tidak dapat memelihara keberagaman agama.
"Saya melihat, agama bukan sumber masalah, tapi sering dijadikan alat untuk memperkeruh suasana. Agama sering dijadikan sumbu api," kata Jensen saat menghadiri dialog antar-umat beragama di Istiqlal.
Hal ini juga diamini oleh tokoh Islam Indonesia, Alwi Shihab, yang juga hadir dalam dialog antar-agama di Masjid Istiqlal. Menurutnya, Islam yang sebenarnya seharusnya damai.
"Ada banyak wajah Islam di dunia. Jika mau lihat Islam penuh senyum, datang ke Indonesia. Jika mau lihat Islam penuh amarah, datang ke Timur Tengah. Mengapa ada wajah-wajah ini? Itu tidak lepas dari ideologi bangsa," tutur mantan Menlu RI tersebut.
Perang di berbagai negara Islam, kata Alwi, merupakan buah dari interpretasi kitab yang berbeda. 
"Kita lihat Muslim melawan Muslim lain karena interpretasi kitab yang berbeda, seperti ISIS. Islam seharusnya mempromosikan perdamaian. Tidak seharusnya diinterpretasikan dengan kekerasan," kata Alwi.
Akibat perang besar-besaran tersebut, Eropa juga turut tertimpa banyak masalah, seperti isu Islamofobia, terorisme, hingga gelombang pengungsi besar-besaran dari daerah konflik.
"Negara Barat sibuk melawan ISIS. ISIS memang realita, tapi itu hanya gejala, bukan penyakitnya. Penyakitnya adalah ideologi. Kalian harus mencari cara untuk menyembuhkan penyakit itu," kata Alwi.
Alwi lantas mengatakan bahwa Indonesia dapat mengatasi masalah tersebut karena kehadiran dua kelompok besar Muslim di Indonesia yang saling melengkapi dan mengimbangi, yaitu Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah.
"Dua kelompok ini memberi pemahaman bahwa pemahaman Islam dengan kekerasan itu salah. Itu tidak berhubungan dengan Islam. Mereka terus memberikan pemahaman Islam yang sesungguhnya," kata Alwi.
Alwi berpesan kepada Jensen agar memperkuat moderasi di negaranya. "Perkuat posisi suara moderasi. Bukan untuk muslim, tapi untuk Barat juga. Ini adalah tanggung jawab moral kalian. Bisa dengan cara scholarship dan pemberian pemahaman baik melalui institusi terpercaya," kata Alwi. 
Setelah mendengar penjabaran panjang lebar dari Alwi, Jensen mengaku kagum dengan Muslim di Indonesia yang dapat menjadi pemersatu sehingga minim kasus intoleransi, tak seperti di negara Islam dunia.
"Saya pikir, Indonesia telah membangun negara yang sangat toleran, inklusif, dan saya pikir Islam dan dua organisasi Islam besar di Indonesia, Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah, memegang peran penting dalam pembangunan demokrasi dan Islam di sini," katanya.
Setelah melakukan dialog di Masjid Istiqlal, Jensen dan peserta dialog lainnya, termasuk Ali Mustafa Yaqub dan Yenny Wahid, berjalan kaki menuju Gereja Katedral.
Rombongan disambut oleh Vikaris Jenderal Gereja Katedral Jakarta, Samuel Pangestu. Saat berbincang di depan altar, Jensen bertanya kepada Samuel, "Bagaimana Anda hidup sebagai minoritas di sini?"
Pertanyaan tersebut langsung dijawab, "Kami hidup sangat damai di sini. Kami seratus persen Islam, seratus persen Katolik, dan seratus persen semuanya." (ama)

 

 

Posted on October 23, 2015 .