Tak Boleh Mencederai Penganut Agama Lain

Cendekiawan Muslim, Alwi Shibab, menegaskan, betapa pentingnya umat Islam menerapkan inklusivisme dalam praktik beragama di Indonesia. Rujukannya pun jelas. Banyak ayat-ayat di dalam Al-Quran yang menjelaskan tentang inklusivisme.

“Pada dasarnya, Al-Qur’an itu sangat inklusif. Keteladanan Nabi SAW juga sangat inklusif ketika berinteraksi dengan agama-agama lain, atau kelompok agama lain,” kata pria asal Rappang, Sulawesi Selatan, ini.

Didapuk keynote speech pada acara Temu Riset Peneliti Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI, bertemakan “Positioning Peneliti Keagamaan di Era Disrupsi”, di Hotel Ciputra Cibubur, Jawa Barat, 21-23 Agustus 2019, Alwi Shihab diminta berbicara tentang “Meneguhkan Inklusivisitas Agama-Agama di Indonesia.”

Pada 1998, Alwi Shihab pernah menulis buku “Islam Inklusif: Menuju Sikap Terbuka dalam Beragama.” Lalu, seperti apa inklusivisme Islam menurut mantan Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat dan Menteri Luar Negeri, ini?

Berikut penuturannya di hadapan 215 peserta yang hadir, yang coba diringkas oleh Peneliti Balai Litbang Agama Makassar (BLAM), yang juga hadir pada kegiatan ini:

SEWAKTU diminta berbicara mengenai inklusivisme agama, saya merasa berkewajiban hadir. Topik ini sebenarnya sudah ada sejak bertahun-tahun lalu. Namun, hingga sekarang, kita semua masih merasakan pentingnya inklusivisme agama.

Saya merasakan masih pentingnya membicarakan inklusivisme agama. Mungkin kita dengar beberapa waktu lalu, Perdana Menteri Malaysia, Mahathir Muhammad, mengeluhkan karena banyaknya pandangan-pandangan ulama, yang menurut beliau, banyak di antara pandangan ini tidak sejalan dengan semangat Al-Quran dan Sunnah.

Bertitik tolak dari keluhan Bapak Mahathir ini, saya ingin mengurai sedikit, karena saya juga menyetujui pandangan tersebut. Sebelum beliau melontarkan pandangan tersebut, saya pernah memberi tausiyah atau lecture di Houston (Amerika Serikat), untuk menjelaskan apa itu inklusivisme.

Hari ini, saya akan mengulangi lagi apa yang pernah saya jelaskan. Bahwa, pada dasarnya, Al-Qur’an itu sebenarnya sangat inklusif. Keteladanan Nabi SAW juga sangat inklusif ketika berinteraksi dengan agama-agama lain, atau kelompok agama lain.

Definisi inklusif berasal dari kata include, berarti mengajak masuk. Kebalikan dari ekslusif, menganggap dia di luar. Bagaimana kita melihat agama-agama yang besar? Hampir semua agama mempunyai tujuan mulia, dan mempunya tujuan amar ma’ruf nahi munkar. Tidak ada satu pun agama, dari dulu sampai sekarang, yang menganjurkan kekerasan dan kebencian. Termasuk, tentunya, agama samawi.

Dengan kata lain, walaupun agama berbeda-beda, tetapi tujuan sama. Dan, itu dikukuhkan oleh Al-Quran. Tiap-tiap jalan atau tujuan itu, dengan agama-agama yang ada ini, walaupun berbeda, Tuhan telah menciptakan keragaman itu, tetapi bertujuan yang sama.

Karena kalau Tuhan menghendaki menciptakan hanya ada satu agama, atau satu ras, tentu saja sangat bisa. Tetapi, Tuhan tidak mau. Untuk apa? Untuk mengetahui sampai di mana tiap agama dan tiap kelompok keagamaan berlomba berbuat kebajikan. Ini salah satu tanda inklusivisme.

Tuhan seakan-akan ingin mengatakan, kalian itu sama. Berubahlah untuk kebajikan. Tidak mengatakan, si A salah, dan si B benar, dan sebagainya. Tiap-tiap dari kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang.

Di samping itu, Tuhan juga memberikan kitab-kitab suci, seperti kitab sucinya Yahudi adalah Taurat, kitab sucinya Nasrani Injil, dan kitab sucinya muslim adalah Al-Quran. Kitab-kitab suci ini bertujuan sama juga. Dengan demikian, masih dalam lingkup inklusif.

Ciri inklusivisme yang paling utama adalah kita dapat menerima perbedaan di antara kita, namun tidak pernah memonopoli kebenaran pada diri kita, dan pada saat kita berinteraksi. Jadi, ungkapan kamu kafir, kamu masuk neraka, itu tidak ada di dalam Al-Quran. Di dalam Al-Quran jelas, bahwa semua nanti akan ditentukan oleh Tuhan.

Hak prerogatif Tuhan yang menetapkan siapa yang masuk surga, siapa yang benar, dan sebagainya. Di sini mulai timbul perbedaan apabila seseorang memiliki perspektif hukum. Ahli tasawuf dalam Islam itu sering “bertengkar” dengan ahli hukum.

Apa sebabnya? Karena, ahli hukum itu perspektifnya benar-salah, sedangkan tasawuf, yang menggunakan hati untuk menentukan sesuatu, tidak ingin untuk memilah dari tiap perilaku seseorang, apakah dia benar atau salah, karena semuanya diserahkan kepada Yang Maha Kuasa.

Islam juga di dalam Al-Quran mengatakan kepada semua penganut agama untuk melaksanakan ajaran agamanya masing-masing, dan yakin sepenuhnya, hanya agamanya yang benar. Ini adalah sikap ke dalam.

Apa yang dimaksud sikap ke dalam? Bahwa, sebagai komunitas muslim, dia harus yakin Islam paling benar, tetapi saat kita berinteraksi, kita tidak dianjurkan oleh Al-Quran untuk menuding pihak lain keliru. Kita selau dianjurkan untuk mencari titik temu, sehingga hubungan kita bisa menjadi harmonis.

Pada saat kita berinteraksi dengan seorang Hindu, misalnya, dan kita katakan, bahwa Tuhan Anda itu tidak bisa masuk dalam pikiran saya. Maka, dalam Islam, itu tidak dibenarkan. Ajaran Al-Quran adalah kita serahkan kepada Tuhan siapa yang benar dan siapa yang keliru. Apabila sikap kita demikian, kita tidak akan mencederai perasaan pihak lain yang berbeda dengan kita.

Sebab, apabila kita memaki dan mencederai agama lain atau penganut agama lain, itu juga dikecam oleh Al-Quran. Jangan memaki Tuhan kelompok lain, karena nanti kelompok lain akan memaki Tuhanmu tanpa dasar pengetahuan yang baik. Jadi, kita tidak boleh sama sekali mencederai perasaan kelompok lain. Ini adalah inti dari inklusivisme Islam.

Karena itu, kalau kita melihat dari perspektif hukum, ia berbeda dengan perspektif tasawuf. Mungkin pernah kita membaca kisah seorang sufi besar menyatakan, sekali Anda melihat saya ruku’ di masjid, maka di kali lain, saya merasakan kenikmatan di gereja. Ini orang-orang ahli hukum bilang, ini tidak jelas. Namun, ahli tasawuf bilang, apa salahnya kalau saya ke gereja, dan kemudian menikmati hal-hal yang baik di gereja.

Perspektif ahli tasawuf memang kebanyakan tidak bisa diterapkan pada masyarakat umum. Tetapi, setidaknya, ia menggambarkan, inklusifisme yang ditonjolkan oleh tokoh-tokoh tasawuf melampaui batas-batas ulama-ulama. Contohnya, Syekh Siti Jenar, yang dianggap menyimpang, karena dianggap mencederai hukum yang jelas.

Karena itu, Al-Quran mengajarkan kepada kita untuk mencari titik temu antara pihak-pihak yang bertentangan atau yang berbeda. Inti dari pencapaian kebersamaan adalah siap membuka diri dan dialog yang konstruktif.

Kembali kepada tesis Mahathir, bahwa perbedaan pandangan ulama-ulama justru mengeruhkan suasana, karena sudah jauh dari semangat Al-Quran. Bahkan, beliau menganggap, pandangan ulama-ulama ini menciptakan kegaduhan di antara mereka. Maka dari itu, kita sebagai peneliti harus jeli membedakan antara Al-Quran dengan penafsiran dari Al-Quran.

Kalau Al-Quran, banyak sekali ayat yang menggambarkan, betapa Al-Quran itu sangat toleran dan inklusif. Ingat, kalian semua ini, diciptakan dari tanah dari bumi, dan kalian semua dituntut untuk memakmurkannya. Memakmurkan itu dengan cara bekerjasama. Kalau ada kegaduhan,  berarti dunia ini tidak makmur. Dunia ini tidak tenang. (ir)

Sumber: https://blamakassar.co.id/2019/08/21/alwi-shihab-tak-boleh-mencederai-penganut-agama-lain/

Posted on August 23, 2019 .