Utusan Khusus Presiden RI untuk Timur Tengah & OKI menghadiri pembukaan WIEF ke 12 di JCC.

PembukaanWorld Islamic Economic Forum (WIEF) ke 12 di Jakarta Convention Center (JCC), yang dihadirioleh beberapa delegasi dari Negara lain seperti Perdana Menteri Malaysia dan patron dari WIEF Foundation Dato’ Sri Mohd. Najib Bin Tun Abdul Razak, Perdana Menteri Republik Sosialis Demokratik Sri Lanka Ranil Shriyan Wickremesinghe, Presiden Republik Tajikistan Emomali Rahmon, Presiden Republik Guinea Alpha Condé, Deputi Perdana Menteri dan Menteri Perekonomian dan Perindustrian Kerajaan Yordania Hasyimiah Dr. Jawad Al Anani, Ketua WIEF Tun Musa Hitam, Presiden Islamic Development Bank Dr. Ahmad Mohamed Ali.

Selain UKP-TTOKI  Dr Alwi Sihab juga tampak hadir jajaran kementrian Indonesia, seperti Sekretaris Kabinet Pramono Anung, Menteri Agraria dan Tata Ruang Sofyan Djalil, Menteri Keuangan Sri Mulyani, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi, Menko Polhukam Wiranto, Panglima TNI, Kapolri Tito Karnavian, Mensesneg Pratikno,Menteri PPN/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro, Menteri Tenaga Kerja Hanif Dhakiri, Kepala BKPM Thomas Lembong, Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi, dn Menteri ESDM Archandra Tahar, (Selasa (2/8).

Dalam pembukaan WIFE, Presiden Joko Widodo mengatakan bahwa masyarakat muslim saat ini telah menghadapi tantangan besar, seperti  pertumbuhan ekonomi yang melamban,  tingkat pengangguran yang tinggi, ancaman terorisme, serta dunia yang penuh ketidak stabilan. Namun, Presiden percaya, melalui  inovasi lah yang  bisa membantu untuk memperbaikinya, hal itu dapat dilakukan secara sungguh sungguh dan kerja keras untuk kesejahteraan masyarakat.

“Tidak ada jalan pintas”, tegas jokowi. Kita harus melakukan pekerjaan rumit, kerja yang sulit untuk membangun industri yang menciptakan lapangan kerja, membangun sistem yang mengedukasi anak-anak bangsa kita, dan melatih keterampilan serta inovasi.

presiden juga mengatakan bahwa untuk negara yang masih menghadapi masalah kemiskinan, harus segera ditangani karena ini menyangkut hajat hidup masyarakat luas.  “Kita harus memastikan masyarakat hidup di tempat yang aman, nyaman, kita juga harus memastikan bahwa pangan pun tersedia dan terjangkau bagi masyarakat.

Yang paling penting dalam sambutan presiden jokowi adalah bagaimana kita bisa membangun budaya masyarakat yang berkeragaman, budaya dengan keterbukaan, budaya dimana kita tidak hanya bertoleransi terhadap perbedaan tapi juga menghargai perbedaan itu.

Posted on August 9, 2016 .

Menlu Denmark: Indonesia Panutan bagi Negara Muslim di Dunia

Menteri Luar Negeri Denmark, Kristian Jensen, menilai Indonesia adalah tempat yang tepat untuk belajar mengenai keberagaman agama. (CNN Indonesia/Hanna Azarya Samosir)

Jakarta, CNN Indonesia -- Di tengah jadwal kunjungan yang padat pada Kamis (22/10), Menteri Luar Negeri Denmark, Kristian Jensen, bertandang ke Masjid Istiqlal, Jakarta, untuk belajar mengenai hidup damai dalam keberagaman seperti di Indonesia dari beberapa tokoh lintas agama. 

Menurut Jensen, Indonesia adalah tempat yang tepat untuk belajar mengenai keberagaman agama.
"Indonesia adalah panutan bagi negara Muslim di seluruh pelosok dunia. Indonesia bisa membuat Islam sebagai kreasi bangsa, juga sebagai pemersatu keberagaman di negara," ujar Jensen kepada CNN Indonesia.

Jensen berpandangan, isu keberagaman sangat krusial bagi dunia saat ini. Pasalnya, banyak masalah bahkan perang pecah hanya karena negara tidak dapat memelihara keberagaman agama.
"Saya melihat, agama bukan sumber masalah, tapi sering dijadikan alat untuk memperkeruh suasana. Agama sering dijadikan sumbu api," kata Jensen saat menghadiri dialog antar-umat beragama di Istiqlal.
Hal ini juga diamini oleh tokoh Islam Indonesia, Alwi Shihab, yang juga hadir dalam dialog antar-agama di Masjid Istiqlal. Menurutnya, Islam yang sebenarnya seharusnya damai.
"Ada banyak wajah Islam di dunia. Jika mau lihat Islam penuh senyum, datang ke Indonesia. Jika mau lihat Islam penuh amarah, datang ke Timur Tengah. Mengapa ada wajah-wajah ini? Itu tidak lepas dari ideologi bangsa," tutur mantan Menlu RI tersebut.
Perang di berbagai negara Islam, kata Alwi, merupakan buah dari interpretasi kitab yang berbeda. 
"Kita lihat Muslim melawan Muslim lain karena interpretasi kitab yang berbeda, seperti ISIS. Islam seharusnya mempromosikan perdamaian. Tidak seharusnya diinterpretasikan dengan kekerasan," kata Alwi.
Akibat perang besar-besaran tersebut, Eropa juga turut tertimpa banyak masalah, seperti isu Islamofobia, terorisme, hingga gelombang pengungsi besar-besaran dari daerah konflik.
"Negara Barat sibuk melawan ISIS. ISIS memang realita, tapi itu hanya gejala, bukan penyakitnya. Penyakitnya adalah ideologi. Kalian harus mencari cara untuk menyembuhkan penyakit itu," kata Alwi.
Alwi lantas mengatakan bahwa Indonesia dapat mengatasi masalah tersebut karena kehadiran dua kelompok besar Muslim di Indonesia yang saling melengkapi dan mengimbangi, yaitu Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah.
"Dua kelompok ini memberi pemahaman bahwa pemahaman Islam dengan kekerasan itu salah. Itu tidak berhubungan dengan Islam. Mereka terus memberikan pemahaman Islam yang sesungguhnya," kata Alwi.
Alwi berpesan kepada Jensen agar memperkuat moderasi di negaranya. "Perkuat posisi suara moderasi. Bukan untuk muslim, tapi untuk Barat juga. Ini adalah tanggung jawab moral kalian. Bisa dengan cara scholarship dan pemberian pemahaman baik melalui institusi terpercaya," kata Alwi. 
Setelah mendengar penjabaran panjang lebar dari Alwi, Jensen mengaku kagum dengan Muslim di Indonesia yang dapat menjadi pemersatu sehingga minim kasus intoleransi, tak seperti di negara Islam dunia.
"Saya pikir, Indonesia telah membangun negara yang sangat toleran, inklusif, dan saya pikir Islam dan dua organisasi Islam besar di Indonesia, Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah, memegang peran penting dalam pembangunan demokrasi dan Islam di sini," katanya.
Setelah melakukan dialog di Masjid Istiqlal, Jensen dan peserta dialog lainnya, termasuk Ali Mustafa Yaqub dan Yenny Wahid, berjalan kaki menuju Gereja Katedral.
Rombongan disambut oleh Vikaris Jenderal Gereja Katedral Jakarta, Samuel Pangestu. Saat berbincang di depan altar, Jensen bertanya kepada Samuel, "Bagaimana Anda hidup sebagai minoritas di sini?"
Pertanyaan tersebut langsung dijawab, "Kami hidup sangat damai di sini. Kami seratus persen Islam, seratus persen Katolik, dan seratus persen semuanya." (ama)

 

 

Posted on October 23, 2015 .

Prescriptions for Peace Offered at World Summit

Hon. Alwi Shihab, special envoy of the president to the Middle East and to the Organization for Islamic Cooperation, Indonesia, expressed surprise at the widespread support for ISIS. “It is baffling because ISIS' ideology goes against the core teachings of Islam, which promotes peace, tranquility and brotherhood.” As explanation, for many Muslims, Islam is intrinsically interwoven with the doctrine of armedjihadand supremacy over non-Muslims, he said, and many Muslims in the Arab-speaking countries have a long history of hostility against non-Muslims. Nevertheless, “a majority of Muslims in both the non-Arabic and Arabic-speaking world believe that the ISIS religious orientation and beliefs are not in line with the peaceful, tolerant and inclusive nature of Islamic teachings.”

Regarding Islam in Indonesia, which has the largest Muslim population in the world, he quoted the historian Dr. Theodore Friend: “Indonesia's Islam is the smiling face of Islam in contrast to the angry radical and literalist Islam of ISIS.” Dr. Shihab described Indonesia and its tolerance and inclusiveness as the “right representation of true Islam,” although admittedly violent Islamist groups do exist, as evidenced by the 2002 Bali bombing and the 2003 Marriott Hotel bombing in Indonesia. Dr. Shihab called for the Indonesian and global Muslim community to take “a proactive stance to promote the true teachings of the religion of Islam, where the idea of living in harmony with all peoples from different religions is not only an act of tolerance but becomes an ordinary aspect of everyday human life.” Indonesian Muslims have “always rejected religious extremism and radicalism and continue to promote tolerance and religious harmony.” Dr. Shihab considers extremism and terrorism as global challenges, and says the moderate version of Islam should be encouraged as the best way to contain the radical Islamic movements.

 

Posted on September 23, 2015 .